Rabu, 20 Maret 2013

MELATIH KONSENTRASI ANAK


Psikolog perkembangan anak Unika Atmajaya, Fabiola Priscilla Msi mendefinisikan memori atau daya ingat adalah kemampuan untuk mengingat pengalaman terdahulu yang kemudian bisa menggunakannya kembali pada situasi yang berikutnya atau disebut (merecall). Jika tidak mampu ‘memanggil’ kembali, artinya tidak dapat mengingat dengan baik. Konsentrasi adalah kemampuan seseorang untuk memperhatikan atau fokus pada suatu hal.
Kemampuan anak berkonsentrasi berbeda-beda sesuai usianya. Rentang perhatian anak dalam menerima informasi melalui aktivitas apapun juga berbeda. Rentang perhatian pada anak pra-sekolah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga tidak dapat dipastikan. Orangtua harus bisa pintar dalam menyampaikan materi. Pada usia ini, sampaikan materi yang disesuaikan dengan perkembangan motoriknya.
 Selain itu, materi juga disampaikan dengan cara yang menarik perhatiannya misal dengan permainan warna, sehingga konsentrasi anak optimal. Libatkan anak pada setiap materi yang diberikan. Kemampuan berkonsentrasi juga tergantung pada faktor lingkungan yaitu pola pengasuhan yang benar, cara pembelajaran yang tepat dan pemberian stimulus.
 Stimulasi yang diberikan sebaiknya dilakukan secara interaktif karena anak lebih mudah mengingat hal-hal yang pernah ia alami, atau kejadian yang unik. Orangtua harus mengusahakannya misalnya bercerita dengan menggunakan ekspresi. Selain itu, hargai cara belajar anak, misalnya dengan memperhatikan jadwal belajar sesuai kadar optimal rentang perhatiannya. Dikarenakan setiap anak memiliki waktu-waktu yang berbeda-beda. Perhatikan pula cara penyampaian materi apakah anak lebih menyukai auditori, kinetesis, atau visual.
 Yang harus diperhatikan dalam mempertahankan daya ingat anak yang normal dalam arti tidak mengalami gangguan perhatian yakni dalam pemberian reward dan pemberian semangat.
Cara lain dengan melakukan pengulangan pemberian materi namun dengan cara yang kreatif. Misalnya tak hanya melalui verbal bisa juga dengan musik, selanjutnya dengan menampilkan simbol-simbol, hal ini akan menimbulkan kesan pada anak.
 Untuk mengukur kemampuan memori dan konsentrasi anak, bisa menggunakan tes IQ dengan standarisasi pendekatan Wechsler yang dapat dilakukan pada usia 4 tahun. Tipikal untuk anak yang daya ingatnya di bawah standar biasanya terlihat dari awal yaitu lebih aktif dari anak-anak yang lain, memiliki rentang perhatian yang pendek, tidak pernah mendengarkan informasi secara lengkap dan dalam mengerjakan tugas sering sekali tidak sesuai dengan yang diharapkan.
 Ada dua hal yang menyebabkan itu terjadi, pertama berkaitan dengan gangguan saraf, kedua pola pengasuhan yang permissive yang bersifat menerima apa saja yang anak lakukan.
 Tips pola pengasuhan yang sebaiknya diperhatikan orangtua,
a.Jangan terlalu menekan anak
b.Mengenali cara dan waktu belajar anak
c.Sebisa mungkin sediakan ruang belajar yang jauh dari gangguan televisi, mainan atau kebisingan.
 Faktor yang mempengaruhi ketahanan daya ingat antara lain,
a.Keunikan suatu kejadian.
b.Partisipasi aktif dari anak.
c.Peran orangtua dalam membicarakan kejadian masa lalu.
d.Pada balita, akan mengingat jika dilakukan sendiri dan berulang akan membantunya memperkuat ingatan.
 Fabiola memaparkan, memperpanjang konsentrasi dapat membangun kepercayaan diri anak. Selain itu, anak lebih mudah dan mampu menerima serta memahami banyak informasi yang dapat digunakan untuk memahami norma sekitarnya, dan hubungan sebab-akibat yang penting dalam interaksi sosial.
 Menurut ahli terapi Remedial dari Klinik Akita, Ganis Sulistyorini, S,Pd, Intensitas konsentrasi misalnya dibawah 3 tahun anak selalu ingin tahu sehingga sering tidak fokus pada satu aktivitas saja. Orangtua bisa mengolah rentang konsentrasi anak, misalnya amati waktu yang dibutuhkan anak saat mengerjakan puzzle, jika anak sudah tidak konsentrasi cepat alihkan pada kegiatan lainnya.
 Manfaatkan tingginya rasa ingin tahu anak, dengan memperkenalkan beragam aktivitas meski rentang konsentrasinya masih pendek. Gunanya, selain memperkaya pengetahuan, juga mempertahankan daya konsentrasi anak. Sebisa mungkin orangtua kreatif memberikan variasi kegiatan agar anak tidak bosan. Terus evaluasi rentang waktu konsentrasi anak. “Belum tentu anak yang memiliki rentang waktu konsentrasi yang tidak sesuai dengan harapan perkembangan dikatakan anak ADHD, bisa juga akibat kurangnya latihan atau stimulasi,” papar Ganis.
 Ciri-ciri anak yang rentang konsentrasinya rendah, untuk usia sekolah biasanya anak sulit fokus pada suatu aktivitas pada waktu yang seharusnya (30-45 menit) atau sulit fokus pada aktivitas yang kurang disukainya.
 Sebelum bersekolah, sebaiknya orangtua mulai melatih anak berkonsentrasi mulai dengan memberikan tugas yang sederhana sampai tugas yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Aktivitas bermain juga bisa melatih konsentrasi anak misalnya saat menendang bola, minta anak untuk tendang dengan lurus dan fokus mengarah ke gawang.
Selain itu, pilih aktivitas yang diminati anak, misalnya bermain playstation kemudian alihkan perlahan-lahan ke permainan lain sampai pada kegiatan yang ditargetkan orangtua misalnya membaca atau menulis. Tujuannya anak mampu mengikuti instruksi suatu metode dan mampu melakukannya dengan tepat dan cepat. Latih anak untuk mampu konsentrasi dalam situasi yang berbeda-beda, mulai dari belajar sambil ditemani, belajar sendiri sampai belajar konsentrasi bersama teman-temannya. “Sehingga ketika anak bersekolah mampu mengikuti harapan dari lingkungan sekolahnya, misalnya mampu mengikuti penjelasan guru,”ujarnya.
Brain Gym adalah sejumlah gerakan sederhana yang dapat menyeimbangkan setiap bagian-bagian otak. Diharapkan melalui rangkaian gerakan tubuh, dapat menarik keluar tingkat kosentrasi anak. “Brain gym sebenarnya membuka ‘jalan keluar’ pada bagian-bagian otak yang terhambat’, agar dapat berfungsi maksimal,” papar Lely Tobing, anggota Brain Gym Indonesia.
 Secara teknis brain gym dapat mengembangkan 3 dimensi otak yaitu dimensi lateritas untuk belahan otak kiri dan kanan, dimensi pemfokusan untuk bagian belakang otak dengan bagian depan otak, dan dimensi pemusatan untuk menyeimbangkan posisi depan dan belakang (sistem limbis) dan otak besar.
 Retti Maharani Psi, Kepala Sekolah Twinkle Star yang memasukkan Brain Gym sebagai kurikulum menambahkan kemampuan konsentrasi anak berkaitan dengan dimensi fokus. Hambatan fokus antara otak bagian depan dan belakang dapat menyebabkan anak menjadi kurang perhatian, sulit berkonsentrasi dan kurang mampu memahami. Sehingga diperlukan gerakan-gerakan yang bisa mengoptimalkan kerja otak tersebut.
 Untuk mengaktifkan dimensi otak ini melalui rangkaian gerakan antara lain gerakan silang (cross crawl) yaitu menggerakkan pasangan kaki dan tangan yang berlawanan gunanya untuk menyeimbangkan otak kiri dan kanan yang berhubungan dengan kemampuan mengeja, menulis, mendengarkan, membaca dan memahami. Sebelum melakukan rangkaian gerakan Brain Gym anak dianjurkan minum terlebih dahulu karena air merupakan pembawa energi listrik. “Sebaiknya anak melakukan gerakan ini tanpa paksaan dan senang hati, selain itu orangtua juga perlu mempraktekannya bersama anak,”ujar Lely.
 YogaInstruktur Yoga dari Rumah Yoga, Klara Schoenfeld mengatakan, Yoga dapat menyeimbangkan fokus mata anak dan juga melatih konsentrasi saat melakukan pergerakan badan. Gerakan Yoga pada anak tidak seperti orang dewasa namun lebih dinamis dan ceria yang diiringi musik riang. Yoga melatih anak berkosentrasi mengikuti gerakan-gerakan yang diperagakan. Anda bisa mengajak anak berlatih yoga selama 15-20 menit setiap minggunya.
Sumber Artikel : Majalah Inspire Kids

Mengenali Karakter Anak dan Cara Menyikapinya



“Orangtua sering menimba ilmu untuk mendidik anak ketika belum remaja,
tapi lupa mempersiapkan ilmu mendidik anaknya ketika remaja.
Maka mendidik orangtua menjadi orangtua yang baik itu lebih penting ”


ORANGTUA perlu mengetahui tentang sifat khusus anak agar tahu bagaimana bersikap dalam menghadapi perilaku anak. Beberapa sifat khusus anak tersebut yaitu, pertama adalah sifat anak yang tidak bisa diam dan banyak bergerak (dinamik bio-psicho-phisic). Sebenarnya ini merupakan sifat wajar dan tidak membahayakan, karena anak gemar bermain dan bersukaria terutama dibawah usia 8 tahun. Bahkan hal ini justru dapat menambah pengalaman yang berdampak pada kecerdasan anak.
Kedua, sifat anak yang selalu ingin meniru (peniru ulung). Bisa jadi perilaku negatif anak karena meniru orang tua atau lingkungan pergaulannya. Jadi berilah teladan yang baik dalam bersikap maupun berkata-kata karena anak menyerap semua tingkah laku orang lain, hal baik atau buruk.
Ketiga, sifat anak yang suka membangkang dan banyak bertanya (trotzalter). Hal ini disebabkan karena anak belum dapat membedakan mana benar dan salah. Jadi berusahalah pahami anak yang masih dalam taraf belajar mengolah nilai-nilai yang ia terima. Keempat, sifat anak yang senang bersaing (rivalry). Anak-anak menganggap persaingan tidak lebih sebagai bagian dari kegiatan bermain. Maka arahkanlah anak  senang bersaing dalam berbuat kebaikan seperti yang diajarkan oleh Islam dan dicontohkan Rasulullah.
Menjadi orang tua yang baik bukanlah suatu hal yang mudah, oleh karena itu lebih penting mendidik orangtua terlebih dahulu. Seringkali kita tidak mengenali karakter anak kita meskipun kita sering bersama mereka. Hal-hal kecil yang sering kita abaikan, terkadang merupakan hal yang paling penting bagi anak. Terkadang kita bertanya-tanya, bagaimana ya cara kita berkomunikasi agar pendapat kita bisa didengarkan anak? Seberapa jauh sih kita mengenal karakter anak kita?
Kita tengok di Negara Jepang, mengetahui karakter seseorang lewat golongan darah merupakan sebuah tradisi yang sudah umum. Tetapi, karekter berdasarkan golongan darah ini tidak mutlak dimiliki oleh orang bergolongan darah tertentu, tetapi ada kecenderungan yang menjadi pembawaannya. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan anak, kita bisa mengenal isi hati anak yang menjadi kunci untuk membangun kepribadian mereka.

Anak yang bergolongan darah O
Karakteristik temperamen :
-         Gairah hidupnya sangat tinggi
(aktif, mempunyai cara tertawa yang khas, berorientasi pada hasil)
-         Memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai apa yang diinginkan
-         Ekspresi dan pola pikirnya diungkapkan dengan tidak berbelit-belit
-         Memiliki rasa percaya diri dan ekspresi diri yang kuat
-         Memilih teman dengan dilandasi oleh hubungan kekuasaan yang kuat
-         Mudah tersentuh atau tersinggung, tetapi mudah juga melupakannya
-         Senang bicara
Tingkah laku yang terlihat pada anak :
-         Bersahabat, dan terkadang manja
-         Menyenangi kontak fisik
-         Memiliki keinginan yang kuat untuk memonopoli orang atau benda
-         Pandai membuat cerita
-         Sangat antusias untuk makan
-         Sangat peduli dengan kompetisi
Cara menegur
-         Tunjukkan sedikit kemarahan saja, dan jangan lupa untuk mengatakan, “karena saya mengasihi kamu.”
Bagian yang perlu diperhatikan
-         Agar tidak tampak berlebihandalam menyikapi kesalahannya, tunjukkan juga tindakan yang penuh kasih saying.
-         Bantu dia untuk menunjukkan kemampuannya dalam menolong orang lain.
Anak yang bergolongan darah A
Karakteristik temperamen :
-         Memiliki keinginan yang kuat untuk membantu
-         Sensitif terhadap perubahan lingkungan sekitar
-         Dapat mengontrol emosi dan keinginan
-         Menghargai aturan
-         Perfeksionis
Tingkah laku yang terlihat pada anak:
-         Memiliki keinginan kuat untuk membantu
-         Berkelakuan baik
-         Bisa bekerja sama saat melakukan aktivitas bersama teman lain
-         Sangat menjaga apa yang sudah ditetapkan dan diajarkan
-         Sensitif terhadap perkataan orang lain
Cara menegur :
-         Puji sisi baiknya terlebih dahulu, setelah paham akan persoalannya, beritahukan kekurangannya secara baik-baik
Bagian yang perlu diperhatikan:
-         Bersikap sabar terhadapnya
-         Anak ini memiliki dedikasi dan keinginan yang kuat untuk membantu
Anak yang bergolongan darah B
Karakteristik temperamen:
-         Senantiasa melakukan sesuai apa yang disukai, mereka tidak suka dibatasi
-         Berfikir dengan cara yang fleksibel
-         Mudah membuka hati untuk orang lain
-         Optimis
Tingkah laku yang terlihat pada anak:
-         Memiliki ide yang berani dan bebas
-         Antusias terhadap apa yang disukainya
-         Walaupun bersama-sama dengan orang lain dalam kelompoknya, biasanya mereka melakukan aktivitasnya sendiri
-         Pemalu
-         Tidak bisa stabil, tidak mau dikontrol
Cara menegur :
-         Karena intonasi suara yang keras tidak terlalu berpengaruh, ajarkan suatu hal berkali-kali tanpa kenal lelah
Bagian yang perlu diperhatikan:
-         Aktivitas dan ide yang fleksibel
-         Berikan pujian pada saat mereka sedang melatih kemampuan dan talenta mereka
Anak yang bergolongan darah AB
Karakteristik temperamen :
-         Memiliki pemikiran rasional
-         Terkadang memiliki emosi yang stabil, tetapi juga kadang-kadang tidak stabil
-         Bersikap lembut dan baik hati, pandai membuat keputusan terhadap suatu situasi, tidak suka sikap yang cenderung menyanjung.
-         Senang melayani
Tingkah laku yang terlihat pada anak:
-         Sejak kecil tidak terlalu manja
-         Anak yang pemalu tapi sekaligus juga anak yang ceria, penuh rasa humor, lucu
-         Memiliki kebiasaan berfantasi
Cara menegur :
-         Jangan membentak dan memarahi, berikan pengertian dengan mengajaknya berdiskusi. Hanya saja berhati-hatilah, jangan sampai menjawab dengan terlalu enteng.
Bagian yang perlu diperhatikan :
-         Perasaan yang lembut terhadap orang maupun alam, keinginan untuk melayani di lingkungan social
-         Berikan penghargaan pada upayanya, meskipun tampak kecil.
Nah bapak ibu sekalian, dengan mengenali karakter anak, kita bisa semakin mengerti perasaan anak kita melalui komunikasi kasih sayang dan bisa menggali lebih dalam kemampuan anak kita. Karena setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi, bakat dan minat masing-masing. Orangtua dapat mulai memberi perhatian pada potensi yang dimiliki anak dengan melihat kecenderungannya pada satu kegiatan. Misalnya anak cenderung menyukai kegiatan berenang, maka orangtua hendaknya menangkap minat tersebut dan mengarahkan anak untuk menekuni kegiatan itu. Melatih dan mengasah bakat yang dimiliki anak dengan optimal.
Kita adalah orangtua Sukses yang mendidik Anak menjadi Sukses dunia akhirat.


SIAPKAN ANAK HADAPI KEGAGALAN



http://www.gunadihutomo.blogspot.com
Jika Si Kecil mengalami kegagalan ketika harus bersaing dengan teman sebayanya, tentu akan membuatnya tertekan. Lalu, bagaimana agar anak tak mudah putus asa? Berikut sejumlah pendekatan yang dapat dilakukan agar anak tetap semangat menghadapi kegagalan.
HARGAI USAHA ANAK
Sebaiknya, ucapkan selamat kepada anak ketika ia dapat melakukan penyesuaian diri dan menata kembali dirinya, terhadap suatu perubahan keadaan. Selain itu, jika Anda sedang berkesempatan duduk santai bersama anak-anak, ceritakanlah bagaimana Anda menghadapi berbagai rintangan.
Dan pastikan anak tahu, Anda kagum terhadap orang-orang yang mampu bangkit dari kegagalan, bisa kembali menyesuaikan diri, dan mengimprovisasikan kegagalannya. Tidak peduli apakah ia seorang atlit terkenal, kenalan dekat Anda, atau bahkan seorang anak yang juga dikenal oleh Si Kecil.
HARGAI JERIH PAYAH ANAK
Sebagai orangtua, Anda tak perlu berlebihan dalam berusaha menanamkan rasa percaya diri pada anak. Yang penting, Anda tidak pernah lupa untuk menghargai setiap keberhasilan yang anak-anak capai, sekali pun untuk hal-hal sepele yang ada di dalam rumah.
Misalnya, jika anak telah mau membantu Anda membersihkan rumah, hargai bantuannya dan ucapkan terima kasih. Perlihatkan padanya, ia sudah sangat membantu dan meringankan beban Anda. Ingat, tujuan Anda, kan, ingin membesarkan seorang anak yang akan tumbuh dewasa dengan bekal keuletan dan ketabahan, bukan menjadi seseorang yang manja.
HARGAI UCAPAN &PANDANGAN ANAK
Seorang anak, selain perlu mempercayai usahanya memiliki manfaat, ia pun perlu tahu dan merasa untuk memiliki kepribadian yang baik. Oleh karena itu, bila anak membuat lelucon, pastikan Anda tertawa, tetapi jangan terpaksa atau dipaksakan.
Carilah cara memuji anak dengan mengubah pandangan Anda mengenai sesuatu. Idenya, berawal dari sesuatu yang anak katakan, yang membuat Anda sebagai orangtua berpikir untuk membantu mengembangkan cara berpikir anak.
CIPTAKAN OPTIMISME
Orangtua yang baik tidak akan pernah menceritakan peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi di tempat kerjanya, atau terus menerus mengeluh karena tidak pernah berhasil mendapat promosi jabatan dari atasan.
Hal-hal buruk tadi tentu akan terdengar sangat membosankan bagi telinga anak usia 9 tahun. Bahkan, hal ini bisa membuat anak tumbuh menjadi seseorang yang memiliki sikap pesimis.
Sebaliknya, gunakan kata-kata optimis seperti, "Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Tapi yang terpenting adalah cara menyikapi kegagalan itu, yaitu dengan bangkit dan tidak putus asa!"
SIKAP MEMOTIVASI
Anak yang tabah, akan menghubungkan segala sesuatu dengan tepat, mengerti keberhasilan yang dicapai adalah hasil dari usahanya, dan sebuah kegagalan akan dianggapnya sebagai nasib yang belum baik. Jadi, jelaskan kepada anak, terkadang cukup sulit menghubungkan keberhasilan dengan usaha yang sudah dilakukan anak. Dan tak jarang kegagalan terjadi untuk suatu alasan yang tidak jelas.
MENJADI TUMPUAN HIDUP
Memang betul, sebaiknya anak-anak tidak melihat sikap cengeng Anda ketika sedang menghadapi kegagalan. Kendati demikian, bukan berarti anak tidak boleh mengerti mengenai rintangan yang Anda hadapi.
Oleh sebab itu, yang perlu Anda tanamkan kepada anak-anak adalah bagaimana cara menyikapi rintangan itu. Jadi, jangan ragu-ragu membiarkan anak melihat kesulitan yang pernah atau tengah Anda alami. Biarkan anak-anak melihat kegagalan sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari di dalam kehidupan ini.
HARGAI KEGAGALAN
Ada dua macam sikap yang dapat dilakukan dalam menghadapi kegagalan. Pertama, dengan cara tidak memedulikannya. Kedua, dengan berusaha melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Jika seseorang tidak memiliki jiwa yang kuat, ia akan selalu mengalami kegagalan.
Oleh karena itu, jika anak mengalami kegagalan, Anda tak perlu khawatir berlebihan. Biarkanlah anak mengalaminya, menghadapinya, dan menanamkan pada dirinya cara positif untuk menyikapi kegagalan. Toh, kegagalan dapat dialami siapa saja, namun hidup bisa terus berjalan. Sehingga, seseorang yang tabah akan sadar, ia harus melakukan sesuatu untuk dapat bertahan dan melanjutkan hidupnya.
JANGAN RAGU KATAKAN MAAF
Sampaikan maaf, baik kepada anak-anak maupun pasangan ketika Anda membuat kesalahan yang mengakibatkan suatu kegagalan. Sampaikan juga, kesalahan bukanlah sesuatu yang fatal. Kesalahan hanyalah sebuah kesalahan semata. Yang paling penting dan harus Anda tanamkan kepada anak adalah, ia mau mengakuinya ketika gagal, selanjutnya mau memperbaiki kesalahannya, dan bersemangat untuk maju terus, pantang mundur! 

AJARI ANAK MENGHADAPI MASALAH



Dalam menjalani kehidupan, setiap orang pasti akan bertemu dengan berbagai permasalahan. Baik anak-anak, remaja, dewasa hingga orangtua pun punya permasalahan masing-masing. Yang berbeda hanyalah cara menyelesaikan masalah tersebut.
Dalam menyelesaikan masalah, ada berbagai strategi atau yang bahasa psikologinya strategi coping' yang merupakan proses individu dalam menangani dan menguasai situasi yang membuatnya tertekan. Baik dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku, demi memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Terlepas dari berbagai teori penyelesaian masalah yang diajarkan pada orang dewasa, anak-anak juga harus diajarkan cara untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Tentunya yang sesuai dengan kemampuannya, berikut beberapa kiat yang bisa Anda terapkan bagi si kecil untuk menyelesaikan masalahnya sendiri: 
1. Ajak si kecil mengenal atau mengidentifikasi masalah, apa masalah sebenarnya? Apa penyebabnya dan bagaimana perasaannya? Jika emosinya sedang labil, beri jeda sejenak. Setelah tenang baru ajak si kecil untuk mendiskusikan persoalannya.
2. Bantu ia mendapatkan mendapatkan informasi tentang tindakan apa saja yang dapat dilakukannya untuk menyelesaikan persoalan, baik melalui cerita ataupun pengalaman orangtua.
3. Tumbuhkan keyakinan dan pandangan positif bahwa ia dapat menyelesaikan persoalannya. Yakinkan ia kalau nasib dapat berubah jika ia mau berusaha.  
4. Bekali si kecil dengan keterampilan berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Misalnya, jika ia salah, dorong untuk berani minta maaf dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.  
5. Beri dukungan pada tindakannya, baik secara psikis maupun finansial.

Setiap permasalahan yang dialami akan membuat si kecil semakin matang dan dewasa dalam bersikap. Semakin sering ia berlatih, ia akan semakin cakap dalam menyelesaikan permasalahan. Sehingga saat orangtua tak mendampinginya pun, buah hati Anda akan dapat menyelesaikan persoalannya dengan tepat. (Diambil dari berbagai sumber).

Mengenal Kecerdasan Emosional Usia SMP



Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Pada masa remaja (usia 12 sampai dengan 21 tahun) terdapat beberapa fase (Monks, 1985), fase remaja awal (usia 12 tahun sampai dengan 15 tahun), remaja pertengahan (usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun) masa remaja akhir (usia 18 sampai dengan 21 tahun) dan diantaranya juga terdapat fase pubertas yang merupakan fase yang sangat singkat dan  terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya. Fase pubertas ini berkisar dari usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun (Hurlock, 1992) dan setiap individu memiliki variasi tersendiri. Masa pubertas sendiri berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga  kesulitan pada masa tersebut dapat  menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan selanjutnya. Pada fase itu remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya  dan hal ini memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis terutama emosi.
 Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Bila aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah (pada umumnya masa remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah) tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang tidak positif, misalnya tawuran. Hal ini menunjukkan betapa besar gejolak emosi yang ada dalam diri remaja bila berinteraksi dalam lingkungannya.
 Mengingat bahwa masa remaja merupakan masa yang paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman sebaya dan dalam rangka menghindari hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain,  remaja hendaknya memahami dan memiliki apa yang disebut kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini terlihat dalam hal-hal seperti bagaimana remaja  mampu untuk memberi kesan yang baik tentang dirinya, mampu mengungkapkan dengan baik emosinya sendiri, berusaha menyetarakan diri dengan lingkungan, dapat mengendalikan perasaan dan mampu mengungkapkan reaksi emosi sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada sehingga interaksi dengan orang lain dapat terjalin dengan lancar dan efektif.  
 Apa Sih Kecerdasan Emosional
 Goleman (1997), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.
 Sementara Cooper dan Sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
 Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.
 
Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. 3 (tiga) unsur penting kecerdasan emosional terdiri dari : kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).
 Komponen-Komponen Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ, namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. 
 
Goleman (1995) mengungkapkan 5 (lima) wilayah kecerdasan emosional yang dapat menjadi pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :
Mengenali emosi diri
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.
Mengelola emosi  
Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila : mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya orang yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri. 
Memotivasi diri
Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut : a) cara mengendalikan dorongan hati; b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang; c) kekuatan berfikir positif; d) optimisme; dan e) keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.
Mengenali emosi orang lain
Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.
Membina hubungan dengan orang lain
Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.  Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilan-keterampilan semacam inilah yang  menyebabkan seseroang seringkali dianggap angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan.
Dengan memahami komponen-komponen emosional tersebut diatas, diharapkan para remaja dapat menyalurkan emosinya secara proporsional dan efektif. Dengan demikian energi yang dimiliki akan tersalurkan secara baik sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan remaja dan bangsa ini. Semoga. (ek) 

SEKOLAHNYA MANUSIA


Sekolahnya Manusia. Itu adalah judul buku ini. Pengarangnya adalah Munif Chatib, seseorang yang secara intens menerapkan Multiple Intelligences.
Buku ini baik untuk dibaca para orang tua, guru, para pengambil kibajakan di dunia pendidikan dan semua pihak yang ingin mengembangkan dunia pendidikan. Selama ini kita menganggap anak cerdas, anak pintar itu hanya ditentukan atau dilihat dari sisi kecerdasan kognitif atau Akademik saja.
Buku ini membahas tentang Multiple Intelligences (MI). Bahwa seorang anak dikatakan cerdas bukan hanya karena kecerdasan kognitif semata. MI mengajak kita untuk melihat potensi kecerdasan setiap anak yang berbeda. Tidak ada anak yang bodoh, setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan di tempat yang terbaik dan dengan cara yang terbaik. Yang diutamakan dalam MI ini adalah The Best Process dan bukan The Best Input.
Dalam buku ini juga disampaikan tentang Multiple Intelligences Research (MIR). MIR adalah alat/metode test untuk melihat potensi kecerdasan anak, sehingga anak diketahui mana kecerdasan anak yang paling dominan. Dari hasil MIR inilah guru dan orang tua murid dapat mengetahui metode apa yang paling tepat untuk mengasah kecerdasan siswa.
Sekolahnya Manusia, halaman 56: DR Howard Gardner mengatakan ada delapan kecerdasan.
1. Kecerdasan Linguistik
Komponen Inti: kepekaan pada bunyi, struktur, makna, fungsi kata dan bahasa.
Berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, berdiskusi, berargumentasi, berdebat.
2. Kecerdasan Matematis-Logis
Komponen Inti: kepekaan pada memahami pola-pola logis atau numeris, dan kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang.
Berkaitan dengan kemampuan berhitung, menalar dan berpikir logis, memecahkan masalah.
3. Kecerdasan Visual-Spasial
Komponen Inti: kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat.
Berkaitan dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, mendesain.
4. Kecerdasan Musikal
Komponen Inti: kepekaan dan kemampuan menciptakan dan mengapresiasikan irama, pola titi nada dan warna nada serta apresiasi bentuk-bentuk ekspresi emosi musikal.
Berkaitan dengan kemampuan menciptakan lagu, mendengar nada dari sumber bunyi atau alat-alat musik.
5. Kecerdasan Kinestetis
Komponen Inti: kemampuan mengontrol gerak tubuh dan kemahiran mengola objek, respons dan refleks.
Berkaitan dengan kemampuan gerak motorik dan keseimbangan.
6. Kecerdasan Interpersonal
Komponen Inti: kepekaan mencerna dan merespons secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan keinginan orang lain.
Berkaitan dengan kemampuan bergaul dengan orang lain, memimpin, kepekaan sosial yang tinggi, negosiasi, bekerjasama, mempunyai empati yang tinggi.
7. Kecerdasan Intrapersonal
Komponen Inti: memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri.
Berkaitan dengan kemampuan mengenali diri sendiri secara mendalam, kemampuan intuitif dan motivasi diri, penyendiri, sensitif terhadap nilai diri dan tujuan hidup.
8. Kecerdasan Naturalis
Komponen Inti: keahlian membedakan anggota-anggota spesies, mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara formal maupun non-formal.
Berkaitan dengan kemampuan meneliti gejala-gejala alam, mengklasifikasi, identifikasi.
Menurut Munif Chatib, selama ini orang salah mempersepsikan MI ini dengan mata pelajaran. Misalnya kecerdasan Matematis-Logis disamakan dengan pelajaran Matematika. Beliau menyatakan bahwa MI bukan mata pelajaran. MI adalah strategi pembelajaran. Inti strategi pembelajaran ini adalah bagaimana guru mengemas gaya mengajarnya agar mudah ditangkap dan dimengerti oleh siswanya.
Konsep MI yang menitikberatkan pada ranah keunikan selalu menemukan kelebihan setiap anak. Lebih jauh, konsep ini percaya bahwa tidak ada anak yang bodoh sebab setiap anak pasti memiliki minimal satu kelebihan. Apabila kelebihan tersebut dapat dideteksi sedari awal, otomatis kelebihan itu adalah potensi kepandaian sang anak. (Sekolahnya Manusia, hal.92)



BELAJAR EFEKTIF WAKTU HADAPI UAS



oleh : Eko Marsidi
Belajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para pelajar. Belajar pada umumnya dilakukan di sekolah ketika jam pelajaran berlangsung dibimbing oleh Bapak atau Ibu Guru. Belajar yang baik juga dilakukan di rumah baik dengan maupun tanpa pr / pekerjaan rumah. Belajar yang dilakukan secara terburu-buru akibat dikejar-kejar waktu memiliki dampak yang tidak baik.
Berikut ini adalah tips dan triks yang dapat menjadi masukan berharga dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan atau ujian :
1. Belajar Kelompok
Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.
2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran
Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.
3. Membuat Perencanaan Yang Baik
Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan menargetkan yang yang nomor satu jika saat ini kita masih di luar 10 besar di kelas. Buat rencana belajar yang diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.
4. Disiplin Dalam Belajar
Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik. Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai. Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar. Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.
5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya

Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat membahasnya bersama-sama dengan teman. Selain itu
6. Belajar Dengan Serius dan Tekun

Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian. Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari kembali soal-soal yang salah dijawab.
7. Hindari Belajar Berlebihan
Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap. Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak.
8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan Dan Ujian
Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.
Semoga tips cara belajar yang benar ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua, amin. (Diambil dari artikel pelajar Indonesia)